Diproteksi: MASUKAN NOMOR NIK KAMU DIBAWAH UNTUK MENGAKSES

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

BULAN BAHASA & SASTRA

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” -Soe Hok Gie

Menulis, yang sebagian orang anggap adalah sesuatu yang melelahkan dan membosankan. Tapi ternyata menulis justru sangat menyenangkan! Kita bisa menulis apapun yang kita inginkan dengan memperhatikan kaidah kaidah yang berlaku. Baik dari bentuk, tujuan, fungsi, tujuan semua terbagi dalam substansi masing masing. Artikel misalnya kita menyampaikan suatu informasi apakah dengan bahsa yang formal atau bahasa kekinian agar lebih mudah dipahami dan tidak terkesan kaku.

Seseorang pernah mengajarkan saya bahwa setiap orang punya cara menulisnya masing masing, jadi sangat beruntung orang yang pernah menulis dan mendedikasikan dirinya untuk menulis (SA)

Banyak beranggapan menulis ini hanya untuk jurnalis, seniman, budayawan, sastrawan dan hal hal keestetikaan kejurnalistikan. Kita bisa melihat banyak tokoh tokoh nasional seperti Moh. Yamin seorang politikus dan ahli hukum merangkap penulis, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Abdoel Moeis, Agus Salim, T.Amir Hamzah, Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, Ismail Marzuki dan lain sebagainya yang sangat banyak sekali tokoh tokoh pembesar negara yang menyempatkan diri untuk menulis disela kesibukan dan kepentingan sehingga ia terus dikenang melalui karya karyanya.

TERUS BERKARYA TANPA BATAS! TULISLAH APA YANG INGIN KAU TULIS!

15 bulan nge-blog, Penulis: Terima kasih, akan kami tingkatkan!

Sejak Juni 2016 pada dasarnya blog ini dibuat diperuntukan berbagi berbagai informasi yang aktual, dan semangat semangat revolusioner. Saat ini terjadi penyesuaian tepatnya, bukan pergeseran. Aktif mempublish hal hal tentang kesastraan, kebudayaan, dinamika sosial dan sebagainya tanpa mengurangi tujuan awal dibentuk blog ini.

Berdasarkan hasil analisa statistika, tingkat kepuasan pengunjung relatif disambut positif. Tidak ada keluhan berarti, tetap kami mengharapkan kritik dan saran yang progresif dan konstruktif.

“Iya syukur, artinya kan postingan kita ngga ada yang bermasalah. Semua baik baik aja, semua pada koridornya, kalau bahas topik tetap pada konteksnya, sebab itu pengunjung suka. Demi menjaga ketertarikan itu maka saya ucapkan terima kasih akan kami tingkatkan lebih dalam perihal potensial baik dalam berbagi informasi maupun perkembangan dari direksi” – M D A-

Hingga saat ini pengunjung paling banyak berasal dari negara penerbit sendiri hingga 127 viewers, di tempati posisi kedua terbanyak yaitu Amerika Serikat 23 kali kunjungan dan beberapa negara lain seperti Irlandia, Spanyol, dan Uni Eropa masing masing satu kali kunjungan.

“Kita tingkatkan pokoknya, dunia harus tau!” -M D A-

“Perjuangan cinta Togar untuk Tiur”

Jatuh cinta pada pandangan pertama Togar, lelaki paruh baya 

etrus dan selalu memperjuangkan sang pujaan hati.

Dipertemukan dan disatukan dengan cara yang berbeda.

 

Kenalkan, nama aku Togar. Aku pemuda batak tulen. Aku tak suka minum minum di lapo tuak, lebih suka aku minum jus selain sehat juga bermanfaat. Disaat pemuda lain habiskan waktu mereka dengan kumpul kumpul, jalan sana jalan sini, aku bekerja serabutan. Yang penting tidaklah membebani orang tua lagi.

Aku mau berbagi tentang kisah hidup aku, perihal asmara aku sama Tiur. Perempuan yang sempurna kali buat hidup aku. Buat kelen baik lagi menjalin atau masih mencari bisalah cerita aku ini jadi pembelajaran.
Cerita cinta kami itu berawal dari keserempet becak, di salah satu jalan protokol di kotaku. Aku sedang tarik becak ini kan, cari sewa tapi jalan macet kali. Tiba tiba ada kakak kakak nyebrang gitu aja. Terlindas pula kaki kakak ini menjerit dia satu jalan nengok lah sama kakak ini, mana teriak pula dia depan kuping aku.
“Eh, tepijak kaki aku sama becak kau”
“Kakak itu lah jalan liat liat, macet gini main embat aja, ya tak tau la aku”
“Kau memang ya, ngalah sama pejalan kaki. Pincang udah kaki aku ini”
“Apa kakak yang sakit?”
“Kaki sama kepala”
“Kok kepala juga kak?”
“Iya pening kali aku ngehadapi kau”
“Udahlah hati hatilah kakak dijalan”
“Hati hati kepala otak kau hati hati, kau telantarkan aku kek gini? Bertanggung jawab kau lah sikit? Kau antarkan lah aku ke klinik, kau tengoklah ini lecet kaki aku, nanti kalau lukanya kering jadi koreng lah”
“Jadi kakak mau nya apa?”
“Aku minta kau segera nikahi aku sekarang”
“Bah!. Segera atau sekarang?”
“Secepatnya”
“Berapa Sinamot adek?”
“kau tanya lah sama nantulang nanti”

Percakapan kami ditengah jalan ini justru membuat kemacetan tadi semakin macet. Dimaki pengguna jalan lain pun kami udah tak peduli, udah nyaman kali cakap cakap kami itu. Kuantarkan lah dia buat berobat kusuruh dia naik becak aku. Disinilah aku mulai salah tingkah buat cari perhatian dia dan buat dia tak berhenti bicara sama aku.
“Yaudah, naik lah ke becak cepat”
“Iya aku naik kok kau pula yang turun? Yoklah gerak”
“Kakak aja yang bawa becak, tak tau jalan aku”
“Biawak lah kau bang, udah sakit sakit gini kau suruh pula aku yang nyetir. Tak pande pake kopling aku.”
“Aku dorong becak dari belakang, biar bisa lama kita sama sama”
“Kau ya bang, ish cepatlah. Belum beli sayur aku lagi ini”
“Iya yoklah jalan kita”

Disepanjang jalan pun kami cerita cerita lebih jauh, kayak tinggal dimana, lulusan sekolah mana, minta nomer hp juga kan, cuma pas lowbat pula hape aku waktu itu. Jadi kuingat ajalah nomer kakak itu.
“Dah sampe kita kak”
“Eh bang, praktik bidan ini. Kau pikir aku mau beranak?”
“Loh bukan disini?”
“Iya kau aja lah bang yang ke dalam”
“kok aku pula coba lah?”
“Mana tau kau mau beranak bang”
“Yodahlah kedepan lagi kita ya kak.”
“Iya cepat lah bang ya”

Pada saat itu aku cuma pura pura tidak tahu supaya bisa lama kami ngobrol, jalan lah lagi kami kedepan, dan berhentilah kami.
“Ini kak, berobatlah kak”
“Eh bang, apotik ini. Mau nebus obat kau?”
“Kan obat kan?”
“Ke klinik loh bang, biar dapat pertolongan pertama”
“Bedanya disini sama disana apa coba?”
“Disini orang itu tak punya dokter, apoteker disini bang resep dokter kasi kesini biar kasih obat. Makanya kalau sakit berobat itu ke dokter bang, jangan ke dukun aja”
“Yuadahlah kesana lah lagi kita ya kak”

Dan kuantar lah dia ke klinik sebenarnya klinik itu tak jauh nya dengan lokasi penyerempetan kami tadi, kisaran 200 meteran ke belakang, cuma kubawa dia jalan jalan aja tadi.
“Dah sampe kita ini kak, klinik.”
“Udah gitu aja?”
“Ya turunlah kakak”
“Turun, kau bantu lah, kaki aku sakit”
“Halah kakak ini, kelingking kaki kakak aja yang kelindas pun heboh kali”
“cemana tak heboh bang bengkak dia udah sebesar jempol kaki ini, gak wajar. Cepatlah tolong”
“Mau dipapah atau di gendong?”
“Kau guling gulingkan aja aku ke situ, udahlah cepat”

Dah itu kubawa lah dia buat di periksa, aku duduk di ruang tunggu, dia pun keluar dengan wajah semeringah
“Cemana kak? apa kata dokter?”
“Ngga apa apa kok bang, cie perhatian cie”
“Yudahlah yok kuantar kakak pulang ini”
“Main pulang aja, kau bayarlah uang berobatnya”
“Ih, kakak yang sakit aku pula yang bayar”
“Kan aku sakit kau yang buat, udah cepat nanti parkir aku yang bayar”
“Sama ongkos minyak ya?”
“Macam Belanda minta tanah kau bang, cepatlah ah”
Disepanjang jalan kami banyak cerita cerita udah kayak saling suka gitu, kuantarlah dia kerumah dia kan.
“Dah rumah kakak yang mana?”
“Ini yang ada pohon mangga lapuk ini, oke makasih ya bang”
“Ongkos becak kak?”
“Udah lah hitung potong sinamot nanti”
“Seingatku kakak gak jadi beli sayur? Kalau jadi kuantar ke pajak ini”
“Ah kau pun bang, gak teringat aku pun tadi, kau pun gak bilang.”
“Kakak nggak tanya. Jadi cemana gerak kita?”
“Tak usahlah bang, nanti kupetik sendiri di belakang, adanya kebun kami itu”
“Ada kebun belanja sayur juga?”
“Suka aku lah bang, campuri kali, ada rugi abang?”
“Youdah aku pulang lah ya kak”
“Eeeeh, bang, minum kau dulu sini, bentar aku buatkan. Dehidrasi kau mati pula dijalan nanti.”
“Iya kak, segan kali aku kalo kakak baik kali gini sama aku”
“Tak usah banyak kali kecap mulut itu bang, duduk kau disini. Mau minum apa bang? Teh apa kopi? Aku buatkan air putih aja ya bang, malas pula aku masak masak air lagi”
“Bagus kau tak usah tawarin tadi kak, udah berharap kali aku”
“Bentarlah kau tunggu disini ya”

Tak lama menunggu diantarnya minum ke aku
“Eh makasih kali ya kak, boleh lah aku main main aku sini ya kak ya?”
“Kayaknya nggak bisalah bang”
“Loh kok gitu pula kak?”
“Iya mau pindah rumah kami bang”
“Ah aku datang pindah rumah, kalau aku tak datang pindah rumah juga?”
“Iya nggak. Nggak urusanmu”
“Ehhmm… Ini pohon mangga ini kok lapuk gitu kak?”
“Iya tiap berbuah dia asik busuk aja”
“Jadi kakak apakan kak?”
“Ih banyak kali tanya kau bang, ngilu kaki aku dengarnya. Minumlah cepat bang, biar ku cuci”
“Iya kak ini kuhabiskan ya kak ya, minta tolong boleh ini kak, satu lagi. tolong pinjam pulpen sama minta kertas buat catat nomor hape kakak tadi”
“Iya ini kubuatkan bentar, sini gelasnya bar kubawa belakang”
“Iya kak, hati hati ya kak. Awas keserempet becak di dapur”
“Nah nomor hapenya”
“Nomor hape kakak ini kan kak?”
“Bukan nomor telpon tukang antar air galon”
“Kok kasih aku pula kak?”
“ya mana tau kau haus dijalan. Ya nomor aku itu lah bang.”
“Kak? Habis minum kok lapar ya kak?”
“Cacingan mungkin kau itu bang, udah ya bang. Cepat lah pulang kau bang, nanti dicariin mamak abang. kabari aku aja nanti ya bang. Hati hati kau dijalan awas keserempet tronton fuso kau bang”
“Ih kakak lah, pulang lah aku ya kak ya”

Itulah percakapan berkesan kali buat aku, selanjutnya kami jalin komunikasi lewat sms an, sering kadang dia yang tanya tanya kabar aku, aku tanya kabar dia, dia tanya kabar mantannya. aku senang kali lah orang nyaman kali kek gini.
Hari demi hari kami lewati sama sama, setiap masalah kami hadapi sama sama, tak ada yang saling kecewakan, akhirnya aku mantap meminang wanita berkelingking jempol ini.
“Kak? Abang Togar ini, ada nantulang kita?”
“Oh, ada bentar lagi pulang. Kau tunggulah disini bentar. Apa kok datang kemari pula? Mau reparasi becak kau bang? Bengkel depan sana bang”
“Kakak kok kek gitu, aku mau itu kak”
“Mau apa?”
“Itu loh kak”
“Kopi apa teh? Air putih aja kubuatkan ya?”
“Ish nanti itu, aku mau itu sama kau”
“Jelas lah ngomong bang, macam knalpot becak pun. Apa kenapa?”
“Nikah kita”
“Kita tanya nantulang dulu ya. Ha dah datangpula panjang umurnya”
“Nantulang, ini Togar yang waktu itu pernah aku ceritakan. Datang dia kemari mau dipinangnya aku”
“Nama kau Togar? apa pula masalah sama anak aku kok mau dilabrak gini anak aku?”
“kok labrak pula?”
“itu tadi, kata kau mau diserang nya kau”
“dipinang mak, bukan diserang.”
“kok kau lindas kelingking kaki anak aku waktu itu?”
“Udahlah mak, udah lewat itu. ini pun udah mendingannya.”
“Syarat nya sinamot tarif biasa, sama aku minta satu hal sama kau. Aku minta kau ambilkan 2 helai kumis naga gunung Toba, kau lipatkan kumis tadi sama sehelai daun pandan yang kau petik dari hutan belantara bukit barisan. Barulah kau antarkan kemari.”
“Eh, mak payah itu. Mana ada gunung Toba ada naga.”
“Itu artinya dia tak mungkin jadi sama kau”
“Tenang Tiur. Aku, Togar akan lakukan apapun. Demi kau Lautan api kusebrangi, samudera dalam kuselami, gunung tinggi kudaki…”
“Udah cukup bang, kau laut api laut api kau bang, masak ikan kena minak panas masih menjerit jerit kau bang.”
“Aku akan penuhi persyaratan itu Tiur! Biarlah aku pergi sekarang”
“Tidak Togar, jangan. Aku takut kau kenapa napa. Kau ambil daun pandan di hutan, kalo di gigit ular sanca kek mana coba bang? Klinik jauh.”
“Tiur? Ketika ada tekad yang kuat, maka akan ada banyak jalan dibukakan. Aku akan kembali kesini dalam 3 hari membawa persyaratan itu.”
“Hati hati kau bang, jangan pigi naik becak jauh itu bang, kering pula oli becak kau itu nanti dijalan”
“Iya Tiur, aku titipkan becak kesayangan aku ini, jagalah baik baik. Aku pinjamlah sepeda listrik kau sebentar Tiur”
“Lebih sayang kau sama becak daripada aku ya, belum ku cas pula sepeda itu bang. Kempes pula ban belakang nya bang, bocor kena paku kurasa”
“Tak apa Tiur, nanti aku pompa kan di bengkel depan gang itu. Tenanglah Tiur semua akan baik baik saja, sekarang aku akan pergi.”
“Hati hati kau ya bang, aku cuma ingin kau selamat. Jaga diri kau baik baik bang. Awas diserempet naga ya bang ya”

Sebenarnya selama tiga hari kepergianku itu, bukan ke Gunung Toba berburu kumis naga atau pergi ke hutan belantara memetik selembar daun pandan. Aku mensiasati mencoba mengakalinya. Akhirnya pigilah aku ke pajak buat beli ikan lele, sampek nya di rumah ku potong kumis lele itu ku lipat dalam pandan yang kupetik punya tetanggaku. Dan di waktu yang kujanjikan kubawa lah itu kerumah Tiur.

“Ini Tiur, persyaratan telah kupenuhi”
“Bang! Syukur selamat kau bang. Gak digigit ular kau kan bang?”
“Tidak tiur, darah aku beracun. Ular pun takut. Cuman di hutan aku dikerubungin bekicot, sama di ganggu begu.”
“Eh bang, kumis naga ini nya bang?”
“Iya Tiur, sebenarnya ini kumis anak naga, orang tuanya lagi pergi keluar. Jadi karena aku udah jauh jauh datang tak apa diganti pakai kumis dia. katanya gitu”
“Eh sejak kapan pula anak anak punya kumis? ngomong sama naga juga kau bang?”
“Itu pula lah yang lupa ingatan aku Tiur”

Setelah persyaratan diantar, digelarlah perhelatan. Menikahlah aku dengan perempuan impian aku. Sejak menikah aku udah tak lagi tarik becak lagi, sekarang aku tarik delman istimewa ku duduk di muka. Selain itu bercocok tanam juga kerja aku sejak selama sama Tiur. Itulah kisah romansa kami.

Sampai sekarang aku belum pernah jumpa sama naga, tapi satu hal yang bisa kupelajari dari kisah ini. Setiap sesuatu peristiwa ada hikmahnya. Kalau kau belum dapat pasangan, coba kau serempet anak orang pakai becak siapa tau jodoh kau itu kan?


PERINGATAN KONTEN!

  • Dilarang keras memperbanyak atau menggunakan karya ini dengan tujuan tertentu tanpa seizin penerbit dan penulis!
  • Konten ini dapat dilihat oleh semua umur (anak,remaja,dewasa) dan seluruh kalangan (umum,pelajar,mahasiswa,dsb.)
  • DASAR HUKUM:

Sanksi Pelanggaran pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

  1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
  2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

    “cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan”

Heningkan hatimu kembali. Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah. Maafkan saya. Cintai saya kembali. ~

“Walaupun kamu pergi, jiwamu akan selalu dekat dengan jiwaku.”

“Jangan pernah bersedih. Jangan putus asa. Cinta itu bukan memakan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa. Tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan.”

“Kau yang sanggup menjadikan saya seseorang yang gagah berani. Kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku.”

“Hati saya dipenuhi cinta kepada kau. Dan biar Tuhan mendengarkan bahwa engkaulah Zainudin yang akan menjadi suamiku kelak, bila tidak di dunia, kau lah suamiku di akhirat.”

“Carilah kebahagiaan kita. Kemana pun engkau pergi, saya tetap untukmu. Jika kita bertemu kelak, saya akan tetap bersih dan suci untukmu, kekasihku.”

“Dengan surat kita lebih bebas menerangkan perasaan.”

“Tanganmu akan ku gandeng, dari hayatku, sampai matiku.”

“Semuda ini usiaku, sudah begitu berat duka yang harus ku tanggung.”

“Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tapi membangkitkan semangat.”

“Kalau pikiran tertutup bagaimana mungkin bisa mengarang?”

“Sejauh-jauhnya kita tersesat, pada kebenaran kita akan kembali.”

“Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku. Kau patahkan. Kau minta maaf..”

“Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu?”

“Janganlah kau jatuhkan hukuman, kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini.”

“Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.”
“Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh Ninik Mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina, tidak tulen Minangkabau, ketika itu kau antarkan saya di simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapapun lamanya, tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah kaya raya, berbangsa, beradat , berlembaga, berketurunan, kau kawin dengan dia. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa pernikahan itu bukan terpaksa oleh paksaan orang lain tetapi pilihan hati kau sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta Hayati.. 2 bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur, kau jenguk saya dalam sakitku, menunjukkan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati?”

“Kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas, bersayap uang kertas. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati? Siapa yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan tetapi akhirnya terbuang jauh ke Tanah Jawa ini, hilang kampung dan halamannya sehingga dia menjadi anak yang tertawa di muka ini tetapi menangis di belakang layar. Tidak Hayati, saya tidak kejam. Saya hanya menuruti katamu. Bukankah kau yang meminta dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku. Tetapi janda dari orang lain. Maka itu secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu sebagaimana teguhku dahulu memegang cintaku. Itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini kau ku bawa tinggal di rumahku untuk menunggu suamimu, tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang, tapi surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu sebagai seorang sahabat pula kau akan ku lepas pulang ke kampungmu, ke tanah asalmu, tanah Minangkabau yang kaya raya, yang beradat, berlembaga, yang tak lapuk dihujan, tak lekang dipanas. Ongkos pulangmu akan saya beri. Demikian pula uang yang kau perlukan. Dan kalau saya masih hidup, sebelum kau mendapat suami lagi Insya Allah kehidupanmu selama di kampung akan saya bantu.”

“Tidak. Pantang pisah berbuah dua kali. Pantang pemuda makan sisa. Kau mesti pulang kembali ke kampungmu. Biarkan saya dalam keadaan begini. Jangan mau ditumpang hidup saya.”

 

Sajak Zainudin kepada Hayati: Dalam film Tenggelamnya kapan Van Der WijckHasil gambar untuk tenggelamnya kapal van der wijck

Keinginan, Harapan, dan Kenyataan


“saya tidak dapat memaksakan orang lain untuk mempercayai kata kata saya sekarang, setidaknya terlebih dahulu saya memulai dengan perbuatan untuk mempercayai kemampuan diri saya sendiri yang mana pada setelahnya menjadikan suatu hari nanti orang tersebut akan percaya ucapan saya yang telah lampau.”

-M DIMAS ALFALAH-


 

Soekarno_film_poster

Film Soekarno: Indonesia Merdeka

Film yang dirilis pada 11 Desember 2013 besutan sutradara Hanung Bramantyo dan produser Raam Punjabi menghasilkan sebuah maha karya luar biasa. Berdurasi 137 menit tersebut terdapat scene (bagian) yang menunjukan perihal kisah asmara seorang Proklamator tersebut. Ketika Inggit Garnasih hendak digantikan dengan menikahi Fatmawati anak didik Soekarno di tempat dia mengajar.

Hati siapa yang tidak terluka mendengarnya? Inggit adalah wanita yang menemani Bung disaat susah senang bung, pengorbanannya juga tidak sedikit! Siapa yang menemani dan mengantarkan makanan bung ke penjara, bung? apakah Fatmawati? tidak bung, engkau keliru. Padahal sekali lagi, memang Inggit bukanlah istri pertama bung. Sebelumnya Oetari seakan menjadi istri yang tak pernah diakui. Mengapa bung tinggalkan Oetari dan Inggit? apakah mereka tidak dapat memberikan keturunan bung?

Sejarah mencatat terhitung 9 Istri bung. Adat istiadat kejawen karena bung “raja jawa” ? Penulis menganilisa kembali dalam Film Soekarno justru menayangkan ketika perasaan bung ditolak gadis kompeni Belanda, apakah itu yang membuat bung begitu sakit hingga menyanggupi meninggalkan mereka?

Boleh saya menyimpulkan suatu hal, bahwa di sepanjang usia bung tidak menemukan wanita yang tepat. Tapi bung perlu tau kalau Inggit sungguh mencintai bung. -Respect

 

16298981_1240335099355498_5717843217662118051_n