Element of life Enviromental Happiness: Revolution is solution & Hijrah for Jannah

images (4).jpg

Bung Karno, seseorang yang sangat sederhana dalam pelbagai kehebatannya. Banyak yang mempertanyakan apakah Soekarno seorang komunis? Mengapa ada banyak ditemukan sesuatu yang memilki khas “ke-kiri-an”? Semisal buku NASAKOM (Nasionalis, Agamis, Komunis) atau konsepsi manifesto politik UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi terpimpin, Ekonomi terpimpin, Kepribadian Indonesia. Yang kemudian kita kenal sebagai Manipol-USDEK yang seolah olah dimanipulasi sedemikian rupa sebagai ideologi alternatif yang terilhami oleh paham paham kiri.

Sebenarnya kita telah ketahui bersama Soekarno bukanlah seorang komunis namun mengakui dirinya adalah seorang penganut paham sosialis, yang lebih dikenal sebagai marhaenisme. Kita tidak membantah bahwa ide ide yang demikian bersumber pada ajaran Marxisme, Leninisme, Stalinisme dan sebagainya. Namun jika dapat boleh kita kaji secara multi dimensi maka ditemukan hipotesis bahwa ada komunisme gaya baru dan dalam bentuk lain yang disajikan dengan penyesuaian dan pemolesan atas kondisi yang berbeda, baik dari segi sosial hukum politik, kebudayaan, bahkan geografis.

Literatur Revolusi sangat erat dikaitkan dengan hal ke kiri kiri an. Tidak dapat dipungkiri stigma yang demikian tidak dapat disalahkan secara mutlak sebab sejarah mengatakan banyak sekali gerakan gerakan Revolusi itu sendiri disokong oleh orang orang berpaham kiri. Revolusi telah menjelma jadi momok menakutkan karena dalam benak kita adalah gerakan sosial dengan aksi fisik dan pertumpahan darah dan nyawa.

Kendati demikian situasi revolusi fisik masa lampau tidak relevan dengan saat ini sekalipun tidak menutupi akan terjadi pengulangan sejarah dalam waktu yang berbeda.

images (3).jpg

Penulis akan membimbing cara pikir pembaca secara sederhana. Kita akan keluar dari topik dari bentuk bentuk pemikiran Bung Karno. Kita akan membahas lebih kepada esensi nilainya. Kita ibaratkan dengan hijrah.

Secara historis hijrah adalah peristiwa pindahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Perjalanan perpindahan ini disebut dengan hijrah. Dari peristiwa ini pula lah penanggalan kalender Islam dimulai (Tahun Hijriah dengan perhitungan komariyah laa syamsyiah/peredaran bulan bukan peredaran matahari) Apa yang dapat kita pelajari dalam hal ini?

Membangun sebuah peradaban. Bukanlah kehendak Nabi Muhammad untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan murni tidak menginginkan itu terjadi. Desakan sosial yang memaksa dan mendorong untuk mencari tempat alternatif lain untuk mengembangkan diri (sayap dan Panji Panji). Sehingga pasca hijrah justru digantikan oleh Allah berupa ajarannya justru mendunia dan membumi.

Kita dapat belajar mungkin kita tidak diuntungkan dengan pengembangan diri di daerah asal bukan berarti kita mendulang hasil yang sama di tempat yang lain. Ada hikmah yang tersirat dibalik setiap kejadian. Dengan melihat kemungkinan apabila hijrah tidak pernah terjadi tidak adanya mobilitas pengembangan ajaran pasti hasil akan berbeda seperti sekarang, bisa saja ajaran ajarannya sebatas berkembang di daerah jazirah Arab tidak sampai seperti sekarang yang berkembang dengan sangat pesat.

Tak ubahnya dengan Revolusi, hijrah memiliki pemaknaan yang serupa walau tak sama. Tujuannya jelas berupaya berubah. Dalam hal ini ada dua perubahan saja. Berubah dari yang tidak baik menjadi baik, dan berubah dari baik menjadi lebih baik (change badness be a better and change the kind be a more better again)

Perbedaan mendasarnya diantara Revolusi dan Hijrah terletak pada pondasinya. Revolusi menuntut perubahan multi dimensional, mulai dari karakter manusia itu sendiri, hal hal yang disekitar manusia baik dalam skup kecil atau cakupan berskala luas, dengan gerakan gerakan sosial progresif. Sementara Hijrah sendiri lebih mengedepankan perubahan perilaku dengan melalui agama sebagai media demi menjadi insani ahqlakul kharimmah yang religius.

Keduanya saling melengkapi, Revolusi tetap membutuhkan pandangan agama demikian Hijrah tetap membutuhkan pandangan sosial. Dan singkatnya adalah integritas Habdu MinnaAllah wa Habdu Minna nass yang berbanding lurus.

Adapun kesamaan ciri ciri orang yang melakukan Revolusi atau Hijrah tidak menunjukan perbedaan yang signifikan. Diantaranya ciri nya sebagai:

  1. Mengasingkan,Diasingkan,Terasingkan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan satu sama lain. Mengasingkan adalah keinginan atas adanya kesadaran diri sendiri pencapaian dan harapan yang ingin jauh lebih baik baik dalam perihal selektif ataupun objektif-situasional. Diasingkan adalah konsekuensi atas kebijakan kesadaran itu sendiri sementara terasingkan adalah kondisi dengan atau tanpa disadari kita berada pada dunia dan hal baru dalam mencapai tujuan dan mewujudkan harapan.
  2. Tidak begitu menampakan perubahan secara fisik, jasmani, dan raga akan tetapi lebih mengutamakan perubahan mental, rohani, dan kejiwaan.  Meskipun dalam hal ini perubahan penampilan adalah suatu kewajaran yang berakibat pada perubahan sikap adalah sesuatu yang dipastikan akan terjadi.
  3. Mereka akan terbagi dalam kelompok kelompok dengan pemahaman dan filosofis yang sistematis dan dikategorikan dalam aspek aspek tertentu. Sebagian golongan menerima dan menyambut baik perubahan ini, akan tetapi sudah pasti golongan lainnya akan menolak dan menentang perubahan yang terjadi. Disinilah teman akan menjadi musuh dan musuh akan menjadi teman. (Contoh dari poin 1)

Walaupun yang demikian merupakan tuntutan Revolusi dan Hijrah, yang masing masing memiliki kelemahan dan kekurangan tersendiri. Tidak menjadikan diri kita sebagai orang yang munafik dan fanatik. Kita dapat melebur dalam kesatuan sistem agar tidak tampak begitu vokal dan kontras. Penulis menganjurkan dengan melakukan kombinasi diantara keduanya: Revolusi rasa Hijrah dan Hijrah Revolusioner.

Mungkin Revolusi tempo dulu menentang kaum Borjuis-Hedonis, kapitalisme-liberal, dan menentang segala bentuk monopoli kekuasaan dan kediktatoran dengan kesejajaran hak sosialisme akan tetapi Revolusi kita sekarang adalah “make your dream come true“.
Mungkin Hijrah tempo dulu adalah sekedar peristiwa perjalanan pemindahan peradaban sementara akan tetapi Hijrah saat ini adalah membentuk perubahan progresif dalam pelaksanaan yang murni dan konsekuen berprinsip dan berpendirian teguh pada komitmen dan dapat Istiqomah dalam perjalanannya.

Intinya jangan berhenti jadi baik, sekalipun disakiti bukan berarti dilukai, sekalipun dilukai bukan berarti dicederai, sekalipun dicederai bukan alasan untuk berhenti.

“Rule of law is born from a soul, spirit make it freedom or justice” ¬†(M Dimas AlFalah:2017)

Manusia hanya dapat merencanakan, keputusan di tangan Tuhan Takdir tidak dapat dirubah, tapi setidaknya nasib bisa ditentukan.

images (2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s