Hakikat pendidikan: Korelasi Teori kelas dengan praktik lapangan yang komprehensif.

images (1)

Akan ada banyak sekali pendapat yang mengemukakan definisi sebuah pendidikan, menurut penulis sendiri pendidikan secara harfiah merupakan sebuah interval dari hal kodrati yang fundamental sehingga teori teori ini nantinya akan diaplikasikan secara optimal dalam sendi sendi kehidupan (M.Dimas.AlFalah:2017)

Lebih spesifik lagi, pendidikan bukanlah sebuah konsensus justru lebih kepada hal hal yang bersifat objektif, kritis, dan idealis yang mana dalam hal ini dalam konteks ilmu pengetahuan dan bagian bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Pendidikan secara teknis memberikan suatu peluang yang menjanjikan untuk hidup jauh lebih layak. Sekali lagi dengan pendidikan bukanlah hal mutlak menjamin sebuah kesejahteraan walaupun sejarah membuktikan bahwa peran pendidikan dalam pembangunan peradaban manusia merupakan hal yang sangat krusial.

Secara kongkret, sederhananya dibutuhkan harmonisasi yang sejalan antara interprestasi dengan implementasi, sebab seperti yang telah kita ketahui sendiri bahwa proses dalam mencapai hasil jauh lebih bermakna daripada hasil itu sendiri.

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” Demikian yang ditulis Tan Malaka. Hal ini sependapat dengan pemikiran penulis. Jikalau lah kita dapat tafsirkan dengan menganalisanya bahwa pendidikan tidak sebatas menjadikan seseorang menjadi akademisi dan kaum intelektual (terpelajar) akan tetapi pengetahuan yang diperolehnya justru menempah dirinya sendiri yang memiliki karakter dan jiwa yang mulia. Itu jika kita maknai secara kompleks. Apabila kita memahaminya dari sub sub bagian tentu kita memperoleh makna yang kurang relevansi, menjadikan kepintaran sebagai sebuah sarana konsepsi pembangun paradigma atau suatu sudut pandang baru (perspektif) yang represif tanpa pengecualian, melainkan menunjang hal hal produktif dan potensial dalam mengeksplor kemampuan diri manusia itu sendiri.

Celakanya, dewasa ini banyak sekali orang yang mencederai makna pendidikan. Menggunakan kecerdasan untuk mencurangi. Menjadikan pengetahuannya untuk mengelola pemikiran orang lain, baik dalam bentuk penyisipan penghasutan, penggiringan opini, medoktrin dan menjadikannya sebuah stigma, ujaran kebencian (hate speech).

Dalam hal ini kembali Tan Malaka pernah menyampaikan yaitu: “Padi tumbuh tak bersisik” saya rasa kita semua memahami maksud kalimat ini. Kita boleh membahagiakan orang yang kita cintai, tapi jangan abaikan kebahagiaan diri kita sendiri dan tidak melupakan mencintai diri sendiri pula.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s