“Perjuangan cinta Togar untuk Tiur”

Jatuh cinta pada pandangan pertama Togar, lelaki paruh baya 

etrus dan selalu memperjuangkan sang pujaan hati.

Dipertemukan dan disatukan dengan cara yang berbeda.

 

Kenalkan, nama aku Togar. Aku pemuda batak tulen. Aku tak suka minum minum di lapo tuak, lebih suka aku minum jus selain sehat juga bermanfaat. Disaat pemuda lain habiskan waktu mereka dengan kumpul kumpul, jalan sana jalan sini, aku bekerja serabutan. Yang penting tidaklah membebani orang tua lagi.

Aku mau berbagi tentang kisah hidup aku, perihal asmara aku sama Tiur. Perempuan yang sempurna kali buat hidup aku. Buat kelen baik lagi menjalin atau masih mencari bisalah cerita aku ini jadi pembelajaran.
Cerita cinta kami itu berawal dari keserempet becak, di salah satu jalan protokol di kotaku. Aku sedang tarik becak ini kan, cari sewa tapi jalan macet kali. Tiba tiba ada kakak kakak nyebrang gitu aja. Terlindas pula kaki kakak ini menjerit dia satu jalan nengok lah sama kakak ini, mana teriak pula dia depan kuping aku.
“Eh, tepijak kaki aku sama becak kau”
“Kakak itu lah jalan liat liat, macet gini main embat aja, ya tak tau la aku”
“Kau memang ya, ngalah sama pejalan kaki. Pincang udah kaki aku ini”
“Apa kakak yang sakit?”
“Kaki sama kepala”
“Kok kepala juga kak?”
“Iya pening kali aku ngehadapi kau”
“Udahlah hati hatilah kakak dijalan”
“Hati hati kepala otak kau hati hati, kau telantarkan aku kek gini? Bertanggung jawab kau lah sikit? Kau antarkan lah aku ke klinik, kau tengoklah ini lecet kaki aku, nanti kalau lukanya kering jadi koreng lah”
“Jadi kakak mau nya apa?”
“Aku minta kau segera nikahi aku sekarang”
“Bah!. Segera atau sekarang?”
“Secepatnya”
“Berapa Sinamot adek?”
“kau tanya lah sama nantulang nanti”

Percakapan kami ditengah jalan ini justru membuat kemacetan tadi semakin macet. Dimaki pengguna jalan lain pun kami udah tak peduli, udah nyaman kali cakap cakap kami itu. Kuantarkan lah dia buat berobat kusuruh dia naik becak aku. Disinilah aku mulai salah tingkah buat cari perhatian dia dan buat dia tak berhenti bicara sama aku.
“Yaudah, naik lah ke becak cepat”
“Iya aku naik kok kau pula yang turun? Yoklah gerak”
“Kakak aja yang bawa becak, tak tau jalan aku”
“Biawak lah kau bang, udah sakit sakit gini kau suruh pula aku yang nyetir. Tak pande pake kopling aku.”
“Aku dorong becak dari belakang, biar bisa lama kita sama sama”
“Kau ya bang, ish cepatlah. Belum beli sayur aku lagi ini”
“Iya yoklah jalan kita”

Disepanjang jalan pun kami cerita cerita lebih jauh, kayak tinggal dimana, lulusan sekolah mana, minta nomer hp juga kan, cuma pas lowbat pula hape aku waktu itu. Jadi kuingat ajalah nomer kakak itu.
“Dah sampe kita kak”
“Eh bang, praktik bidan ini. Kau pikir aku mau beranak?”
“Loh bukan disini?”
“Iya kau aja lah bang yang ke dalam”
“kok aku pula coba lah?”
“Mana tau kau mau beranak bang”
“Yodahlah kedepan lagi kita ya kak.”
“Iya cepat lah bang ya”

Pada saat itu aku cuma pura pura tidak tahu supaya bisa lama kami ngobrol, jalan lah lagi kami kedepan, dan berhentilah kami.
“Ini kak, berobatlah kak”
“Eh bang, apotik ini. Mau nebus obat kau?”
“Kan obat kan?”
“Ke klinik loh bang, biar dapat pertolongan pertama”
“Bedanya disini sama disana apa coba?”
“Disini orang itu tak punya dokter, apoteker disini bang resep dokter kasi kesini biar kasih obat. Makanya kalau sakit berobat itu ke dokter bang, jangan ke dukun aja”
“Yuadahlah kesana lah lagi kita ya kak”

Dan kuantar lah dia ke klinik sebenarnya klinik itu tak jauh nya dengan lokasi penyerempetan kami tadi, kisaran 200 meteran ke belakang, cuma kubawa dia jalan jalan aja tadi.
“Dah sampe kita ini kak, klinik.”
“Udah gitu aja?”
“Ya turunlah kakak”
“Turun, kau bantu lah, kaki aku sakit”
“Halah kakak ini, kelingking kaki kakak aja yang kelindas pun heboh kali”
“cemana tak heboh bang bengkak dia udah sebesar jempol kaki ini, gak wajar. Cepatlah tolong”
“Mau dipapah atau di gendong?”
“Kau guling gulingkan aja aku ke situ, udahlah cepat”

Dah itu kubawa lah dia buat di periksa, aku duduk di ruang tunggu, dia pun keluar dengan wajah semeringah
“Cemana kak? apa kata dokter?”
“Ngga apa apa kok bang, cie perhatian cie”
“Yudahlah yok kuantar kakak pulang ini”
“Main pulang aja, kau bayarlah uang berobatnya”
“Ih, kakak yang sakit aku pula yang bayar”
“Kan aku sakit kau yang buat, udah cepat nanti parkir aku yang bayar”
“Sama ongkos minyak ya?”
“Macam Belanda minta tanah kau bang, cepatlah ah”
Disepanjang jalan kami banyak cerita cerita udah kayak saling suka gitu, kuantarlah dia kerumah dia kan.
“Dah rumah kakak yang mana?”
“Ini yang ada pohon mangga lapuk ini, oke makasih ya bang”
“Ongkos becak kak?”
“Udah lah hitung potong sinamot nanti”
“Seingatku kakak gak jadi beli sayur? Kalau jadi kuantar ke pajak ini”
“Ah kau pun bang, gak teringat aku pun tadi, kau pun gak bilang.”
“Kakak nggak tanya. Jadi cemana gerak kita?”
“Tak usahlah bang, nanti kupetik sendiri di belakang, adanya kebun kami itu”
“Ada kebun belanja sayur juga?”
“Suka aku lah bang, campuri kali, ada rugi abang?”
“Youdah aku pulang lah ya kak”
“Eeeeh, bang, minum kau dulu sini, bentar aku buatkan. Dehidrasi kau mati pula dijalan nanti.”
“Iya kak, segan kali aku kalo kakak baik kali gini sama aku”
“Tak usah banyak kali kecap mulut itu bang, duduk kau disini. Mau minum apa bang? Teh apa kopi? Aku buatkan air putih aja ya bang, malas pula aku masak masak air lagi”
“Bagus kau tak usah tawarin tadi kak, udah berharap kali aku”
“Bentarlah kau tunggu disini ya”

Tak lama menunggu diantarnya minum ke aku
“Eh makasih kali ya kak, boleh lah aku main main aku sini ya kak ya?”
“Kayaknya nggak bisalah bang”
“Loh kok gitu pula kak?”
“Iya mau pindah rumah kami bang”
“Ah aku datang pindah rumah, kalau aku tak datang pindah rumah juga?”
“Iya nggak. Nggak urusanmu”
“Ehhmm… Ini pohon mangga ini kok lapuk gitu kak?”
“Iya tiap berbuah dia asik busuk aja”
“Jadi kakak apakan kak?”
“Ih banyak kali tanya kau bang, ngilu kaki aku dengarnya. Minumlah cepat bang, biar ku cuci”
“Iya kak ini kuhabiskan ya kak ya, minta tolong boleh ini kak, satu lagi. tolong pinjam pulpen sama minta kertas buat catat nomor hape kakak tadi”
“Iya ini kubuatkan bentar, sini gelasnya bar kubawa belakang”
“Iya kak, hati hati ya kak. Awas keserempet becak di dapur”
“Nah nomor hapenya”
“Nomor hape kakak ini kan kak?”
“Bukan nomor telpon tukang antar air galon”
“Kok kasih aku pula kak?”
“ya mana tau kau haus dijalan. Ya nomor aku itu lah bang.”
“Kak? Habis minum kok lapar ya kak?”
“Cacingan mungkin kau itu bang, udah ya bang. Cepat lah pulang kau bang, nanti dicariin mamak abang. kabari aku aja nanti ya bang. Hati hati kau dijalan awas keserempet tronton fuso kau bang”
“Ih kakak lah, pulang lah aku ya kak ya”

Itulah percakapan berkesan kali buat aku, selanjutnya kami jalin komunikasi lewat sms an, sering kadang dia yang tanya tanya kabar aku, aku tanya kabar dia, dia tanya kabar mantannya. aku senang kali lah orang nyaman kali kek gini.
Hari demi hari kami lewati sama sama, setiap masalah kami hadapi sama sama, tak ada yang saling kecewakan, akhirnya aku mantap meminang wanita berkelingking jempol ini.
“Kak? Abang Togar ini, ada nantulang kita?”
“Oh, ada bentar lagi pulang. Kau tunggulah disini bentar. Apa kok datang kemari pula? Mau reparasi becak kau bang? Bengkel depan sana bang”
“Kakak kok kek gitu, aku mau itu kak”
“Mau apa?”
“Itu loh kak”
“Kopi apa teh? Air putih aja kubuatkan ya?”
“Ish nanti itu, aku mau itu sama kau”
“Jelas lah ngomong bang, macam knalpot becak pun. Apa kenapa?”
“Nikah kita”
“Kita tanya nantulang dulu ya. Ha dah datangpula panjang umurnya”
“Nantulang, ini Togar yang waktu itu pernah aku ceritakan. Datang dia kemari mau dipinangnya aku”
“Nama kau Togar? apa pula masalah sama anak aku kok mau dilabrak gini anak aku?”
“kok labrak pula?”
“itu tadi, kata kau mau diserang nya kau”
“dipinang mak, bukan diserang.”
“kok kau lindas kelingking kaki anak aku waktu itu?”
“Udahlah mak, udah lewat itu. ini pun udah mendingannya.”
“Syarat nya sinamot tarif biasa, sama aku minta satu hal sama kau. Aku minta kau ambilkan 2 helai kumis naga gunung Toba, kau lipatkan kumis tadi sama sehelai daun pandan yang kau petik dari hutan belantara bukit barisan. Barulah kau antarkan kemari.”
“Eh, mak payah itu. Mana ada gunung Toba ada naga.”
“Itu artinya dia tak mungkin jadi sama kau”
“Tenang Tiur. Aku, Togar akan lakukan apapun. Demi kau Lautan api kusebrangi, samudera dalam kuselami, gunung tinggi kudaki…”
“Udah cukup bang, kau laut api laut api kau bang, masak ikan kena minak panas masih menjerit jerit kau bang.”
“Aku akan penuhi persyaratan itu Tiur! Biarlah aku pergi sekarang”
“Tidak Togar, jangan. Aku takut kau kenapa napa. Kau ambil daun pandan di hutan, kalo di gigit ular sanca kek mana coba bang? Klinik jauh.”
“Tiur? Ketika ada tekad yang kuat, maka akan ada banyak jalan dibukakan. Aku akan kembali kesini dalam 3 hari membawa persyaratan itu.”
“Hati hati kau bang, jangan pigi naik becak jauh itu bang, kering pula oli becak kau itu nanti dijalan”
“Iya Tiur, aku titipkan becak kesayangan aku ini, jagalah baik baik. Aku pinjamlah sepeda listrik kau sebentar Tiur”
“Lebih sayang kau sama becak daripada aku ya, belum ku cas pula sepeda itu bang. Kempes pula ban belakang nya bang, bocor kena paku kurasa”
“Tak apa Tiur, nanti aku pompa kan di bengkel depan gang itu. Tenanglah Tiur semua akan baik baik saja, sekarang aku akan pergi.”
“Hati hati kau ya bang, aku cuma ingin kau selamat. Jaga diri kau baik baik bang. Awas diserempet naga ya bang ya”

Sebenarnya selama tiga hari kepergianku itu, bukan ke Gunung Toba berburu kumis naga atau pergi ke hutan belantara memetik selembar daun pandan. Aku mensiasati mencoba mengakalinya. Akhirnya pigilah aku ke pajak buat beli ikan lele, sampek nya di rumah ku potong kumis lele itu ku lipat dalam pandan yang kupetik punya tetanggaku. Dan di waktu yang kujanjikan kubawa lah itu kerumah Tiur.

“Ini Tiur, persyaratan telah kupenuhi”
“Bang! Syukur selamat kau bang. Gak digigit ular kau kan bang?”
“Tidak tiur, darah aku beracun. Ular pun takut. Cuman di hutan aku dikerubungin bekicot, sama di ganggu begu.”
“Eh bang, kumis naga ini nya bang?”
“Iya Tiur, sebenarnya ini kumis anak naga, orang tuanya lagi pergi keluar. Jadi karena aku udah jauh jauh datang tak apa diganti pakai kumis dia. katanya gitu”
“Eh sejak kapan pula anak anak punya kumis? ngomong sama naga juga kau bang?”
“Itu pula lah yang lupa ingatan aku Tiur”

Setelah persyaratan diantar, digelarlah perhelatan. Menikahlah aku dengan perempuan impian aku. Sejak menikah aku udah tak lagi tarik becak lagi, sekarang aku tarik delman istimewa ku duduk di muka. Selain itu bercocok tanam juga kerja aku sejak selama sama Tiur. Itulah kisah romansa kami.

Sampai sekarang aku belum pernah jumpa sama naga, tapi satu hal yang bisa kupelajari dari kisah ini. Setiap sesuatu peristiwa ada hikmahnya. Kalau kau belum dapat pasangan, coba kau serempet anak orang pakai becak siapa tau jodoh kau itu kan?


PERINGATAN KONTEN!

  • Dilarang keras memperbanyak atau menggunakan karya ini dengan tujuan tertentu tanpa seizin penerbit dan penulis!
  • Konten ini dapat dilihat oleh semua umur (anak,remaja,dewasa) dan seluruh kalangan (umum,pelajar,mahasiswa,dsb.)
  • DASAR HUKUM:

Sanksi Pelanggaran pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

  1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
  2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

    “cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s